SUDDENLY, GOD PUSHED MY BUTTON
“Writing is a form of therapy, sometimes I wonder how all those who do not write, compose, or paint can manage to escape the madness, melancholia, the panic and fear which is inherent in a human situation.” - Graham Greene
Halo semuanya, apa kabar?
Semoga kalian semua dalam keadaan baik-baik saja.
Butuh kemantapan hati dan kemauan yang kuat sampai akhirnya aku memutuskan untuk menulis lagi. Alasan berhenti menulis sebenarnya apa sih.
Terlalu sibuk sama kerjaan di kantor? Mungkin.
Terlalu menikmati hidup yang Tuhan berikan saat itu? Mungkin.
Terlalu terlena pada rutinitas yang dilakukan saat itu? Mungkin.
Tapi jawaban yang pasti adalah selama beberapa tahun ini, aku terlalu sibuk untuk membentuk dan memaksa perubahan pada diriku untuk orang lain, menjadi sosok yang orang itu inginkan sampai lupa bahwa diriku sendiri yang dulu sudah terabaikan.
Mungkin di titik itu, Tuhan sadar kalau anaknya ini sedang masuk ke hutan belantara kehidupan dan berusaha menebang pohon untuk memudahkan dirinya sendiri di masa depan masuk dan bahkan sibuk membangun pondok yang nyaman untuk dia dan keluarganya kelak. Tapi anak ini lupa kalau dia meninggalkan jiwanya sendiri di depan hutan belantara sendirian tanpa menitipkan sebuah peta untuk mengarahkannya masuk ke dalam hutan dan menemukan pondok itu.
Hingga akhirnya Tuhan menekan tombol itu. Tombol yang selama ini aku hindari dan aku takutkan hingga alarm itu berbunyi.
Seperti di blog ini juga saat awal tahun 2019 lalu, aku menuliskan kalau hidupku sudah mulai tertata dengan baik. Termasuk urusan percintaan dan kemauan untuk menanggalkan semua mimpi-mimpiku dan memutuskan untuk mengubah mimpi menjadi seorang istri dan ibu untuk anak-anak di rumah. Atas semua rencana indah yang pernah aku tuliskan. Atas kekufuran nikmat yang tidak aku syukuri saat itu sampai aku lupa bahwa rencana Tuhan pasti lebih indah dan Tuhan dapat mengambil kenikmatan itu sewaktu-waktu. Sampai akhirnya hal tersebut terjadi.
Tahun 2020 ini cukup berat untuk beberapa orang, bahkan untuk semua orang. Iya, kita sedang bersama-sama menghadapi secara mental dan fisik untuk melawan diri sendiri dalam kondisi Covid-19 ini.
Kaget ga kalian saat aku ngomong melawan diri sendiri? Iya, ternyata Tuhan membawa pandemi ini ke dunia bersama dengan hal positif yang harus kita pikirkan yaitu kembali mengenal diri sendiri.
Kapan terakhir kali kamu bertanya kabar pada dirimu sendiri?
Kapan terakhir kali kamu membahagiakan diri kamu sendiri?
Kapan terakhir kali kamu memeluk dirimu sendiri dan meminta maaf pada dirimu sendiri karena tidak memperdulikan dirimu sendiri dalam waktu yang cukup lama?
Beberapa pertanyaan itu muncul di kepalaku setelah Tuhan menekan tombol itu, mendadak.
Dari tadi ngomongin tombol-tombol mulu, emang tombol apa sih?
Tombol yang aku maksud adalah tombol ketidaknyamananku. Kehilangan semua mimpi yang sudah berusaha dijalin, kehilangan rencana yang sudah ditata, kehilangan seseorang yang sudah saya sandari selama beberapa tahun terakhir ini. I lost him, my best friend but also my best man (despite of what he did to me, i choose to forgive him and his fault for my own good because he also did something great to my life).
When God pushed the button, my life is fallen. Literally.. I lost my self and lost everything (mentally). Tapi itulah karunia dan berkah dari Tuhan.
Wah semudah itu kamu ngomong ya wi? Tidak, ini juga melalui proses yang cukup sulit.
Aku (dengan dorongan Tuhan) memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan cara yang lebih positif. Lebih dekat dengan Tuhan, melakukan meditasi, hidup lebih sehat (olahraga), makan makanan yang lebih sehat dan memaafkan diri sendiri. Kembali menjadi diri sendiri.
It's been 3 months, banyak yang bertanya kenapa ga nyari yang baru? Belum move on ya?
Bukan, tapi saya memberikan kesempatan pada diri saya sendiri untuk sembuh agar siapapun yang datang bisa kusambut dengan tangan terbuka dan ucapan terima kasih. Terima kasih karena sudah mau menunggu dan dikirim oleh Tuhan di saat yang tepat.
And that's why, i said God pushed the button. I finally arrive on my real quarter life of crisis. Tapi aku percaya Tuhan bersama denganku.
Pesan yang mau aku sampaikan adalah se-tersesat apapun kamu dalam hidup kamu, jangan lupa dirimu sendiri dan jaga dirimu sendiri tapi yang paling penting jangan lupa Tuhan selalu ada di saat apapun itu dalam hidupmu. Jangan pernah merasa sendirian, surround your self by God, your family and positive people and you will be shock what God will do to your life.
Stay safe and stay healthy everyone. Love your self.
@tiwiiik - 14 September 2020 (13.51 @ her 12th-floor apartment)