DAY 7 - FAVORITE MOVIE #30DAYSWRITINGCHALLENGE
Sebagai anak 90-an yang tumbuh dan besar dengan dunia pertelevisian, sebenarnya banyak film maupun serial di TV (khususnya hari Minggu) yang mampir dan sudah aku tonton sepanjang hidup aku. Yang anak 90-an pasti masih inget jadwal list acara di stasiun TV tertentu. Hayo ngaku siapa yang masih inget acara RCTI sama Indosiar yang jam tayangnya bisa pas gantian.
Tapi jujur kalo ditanya film apa yang jadi favorit aku, aku bingung mau jawab apa soalnya memang aku suka sama semua jenis genre film (kecuali thriller documentary). Apalagi semenjak langganan Netflix kayaknya hampir segala jenis genre baik serial dan film uda aku lihat. Karena aku bingung mau menulis apa nih hari ini. Jadi aku memutuskan untuk membahas film yang ga akan pernah bosan aku tonton walau sampe 30 kali (wkwkwk iya aku bisa tuh baca buku/nonton film yang sama terus menerus kalo emang doyan).
Film pertama yang masih dan akan terus jadi favoritku (sampai nanti kalo punya anak aku akan kasih tunjuk ke dia juga) adalah “Petualangan Sherina”.
Film ini mendadak happening lagi karena baru aja tayang dan masuk di Netflix di bulan September ini. WOW! Sebagai anak 90-an kubangga dan bahagia bisa lihat film ini tanpa bingung cari link atau download-an dari temen (dulu padahal sampe sama orang rumah dibeliin VCD originalnya). Bisa gitu di-play setiap weekend dan joget-joget ala-ala Sadam sama Sherina di lapangan sekolahan.
Film ini tuh sedikit banyak membentuk kita si penontonnya dalam hidup kita waktu kecil dulu. Percaya ga percaya, pas film ini booming di tahun 2000 mendadak itu yang namanya jam tangan merek B**y-G, plester h****plast sama permen coklat merk c*a-c*a ABIS DIMANA-MANA. Iya, mendadak semua anak cewek tomboy suka pake plester (padahal ga luka) dan suka bawa tupperware isi permen coklat. Film ini mengajarkan kalau meskipun kita jadi anak cewek, gapapa kalau jadi berani kalau benar dan belajar biar jadi cerdas macam Sherina itu jadi impian banyak anak cewek tomboy pada masa itu. Alur ceritanya cukup bisa dipahami oleh aku (seorang anak SD) waktu itu.
Jujur sampai sekarang pun aku masih kadang nonton daaaan hari kamis kemarin aku nonton di Netflix (masih sambil joget-joget)..
Film kedua yang aku suka saat aku beranjak dewasa adalah “500 Days of Summer”.
Pas pertama kali nonton film ini, kamu akan dibawa oleh peran Summer yang cukup jahat dan egois karena meninggalkan pacarnya “Tom” yang sangat mencintainya begitu saja. Aku ga akan ceritakan detail film ini, karena kalian harus coba nonton film ini sendiri deh. CERITANYA LUAR BIASA. Tapi coba deh pas kalian sudah nonton untuk pertama kali, kalian coba buat kesimpulannya.
Setelahnya coba kasih jeda beberapa bulan/tahun terus nonton film ini lagi. PERCAYALAH prespektif dan kesimpulan kalian pas nonton film ini kedua kalinya akan berbeda 180 derajat. Kalian akan menemukan alasan kenapa Summer harus “sejahat” itu sama Tom. Kalian akan sadar ternyata point of view yang disampaikan oleh film ini adalah dari sudut pandang seorang pria yang sangat meratapi dan mendramatisir kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Kalian akan menyadari beberapa hal mengenai jatuh cinta dalam film ini.
------------------------------------------------------------------------------------
Menonton film adalah salah satu cara relaksasi diri untuk sekedar refreshing dari kesibukan kita setiap harinya dan meminta kita untuk melihat prespektif/plot yang ingin disampaikan oleh si pembuat film kepada kita.
“I don’t like the idea of “understanding” a film. I don’t believe that rational understanding is an essential element in the reception of any work of art. Either a film has something to say to you or it hasn’t. If you are moved by it, you don’t need it explained to you. If not, no explanation can make you moved by it - Federico Fellini”
#30DaysWritingChallenge #WritingTherapy
@tiwiiik – 20 September 2020 (22.00 @ her 12th-floor apartment)


