DAY 3 – A MEMORY #30DAYSWRITINGCHALLENGE
Sampai juga akhirnya pada hari ketiga, dan aku cukup amaze karena aku bisa bertahan sejauh ini. Akhirnya aku berhasil melawan rasa malasku buat nulis blog lagi dan lagi. Kembali menulis dan menjadi rutin setiap hari menuangkan apa yang ada dalam isi kepala.
Wah tema hari ketiga ini sensitif sekali sepertinya buat aku. Iya, karena ngomongin kenangan ini adalah hal yang paling sulit kulakukan. Menjelaskan dan menjabarkan sebuah kenangan, karena kenangan ini akan selalu dan selamanya bersemayam di dalam ingatan.
Banyak sekali hal yang muncul di kepalaku saat mendengar kata K E N A N G A N saat ini.
Tidak bisa dipungkiri kenangan yang sering muncul di pikiran kita sebagai manusia saat mendengar kata ini adalah kenangan buruk. Entah kenapa itu juga yang mampir ke pikiran aku ketika mendengarkan kata itu, lebih banyak kenangan buruk yang mampir dibanding kenangan baik yang aku ingat di dalam hidupku.
Hal itu terjadi sampai akhirnya aku sadar justru dengan menerima kenangan buruk, maka semua kenangan buruk itu mendadak akan berubah menjadi sebuah kenangan baik karena kita sekarang melihatnya dari prespektif yang berbeda.
“There are memories that time does not erase... Forever does not make loss forgettable, only bearable.” ― Cassandra Clare, City of Heavenly Fire
Kenangan yang paling dan sangat kuingat dalam hidupku selama 28 tahun ini adalah saat hari terakhir aku bersama-sama dengan almarhum Bapak. Sampai dengan saat ini aku bahkan masih mengingat setiap detail dan percakapan kami berdua di hari itu dan bagaimana semua kejadian satu per satu terjadi sampai akhirnya aku mengakhiri hari itu (bahkan sudah melewati hari) saat aku akhirnya bertemu beliau lagi. Iya, bisa dibilang ini salah satu contoh kenangan buruk dalam hidupku yang seiring berjalannya waktu saat aku menerima dan melihatnya dari prespektif berbeda aku berhasil mengubahnya menjadi sebuah kenangan baik. Karena Tuhan memberi aku kesempatan untuk menghabiskan waktu sama almarhum Bapak hari itu. Dan itu menjadi kenangan terbaik yang akan selalu aku kenang.
Kenangan lain adalah kenangan saat aku menyakiti perasaan orang tua ku karena melakukan sebuah kesalahan. Iya, sadar atau tidak pasti semua orang pernah mengalami ini. Saat-saat dimana kalian “merasa gagal” membahagiakan orang tua karena kesalahan yang secara sadar kalian lakukan. Lagi-lagi kenangan buruk ini ternyata memiliki makna yang jauh berbeda ketika aku melihat segala sesuatunya dari prespektif yang berbeda. Bahwa, ucapan terima kasih dan rasa syukur tidak akan pernah cukup menggambarkan besarnya perasaan orang tua kita kepada kita. Sampai pada satu titik dimana menyadarkan aku kalau semoga nanti aku bisa menjadi orang tua seperti ini bagi anak-anakku kelak. Amin.
Kenangan lain yang akan selalu kuingat adalah kenangan saat bersama dengan orang yang (pada saat itu) aku pikir adalah orang yang tepat. Iya, aku bahkan masih menyebut dia ya di tulisan ini, beliau adalah kenangan yang harus aku syukuri. Banyak kenangan indah yang sudah kami lalui bersama sampai akhirnya tertutup oleh kenangan buruk yang tertinggal. Namun, saat ini kenangan buruk itu telah aku terima dan aku ambil hikmahnya. Bagaimanapun dia orang baik dan berharga karena telah membawa aku ke titik ini, titik terdewasa dalam hidupku. Titik balik yang menjadikanku orang yang lebih baik dan lebih dewasa untuk melihat semuanya dari segala aspek. Sampai kemudian menyadari bahwa, setiap hubungan yang gagal itu bukan salah dari salah satu pihak namun kesalahan dari semua pihak. Aku pun pasti ada salahnya saat itu. Terima kasih banyak ya kamu, sudah membawaku sampai sejauh ini.
Kenangan terakhir yang mau aku sampaikan adalah kenangan-kenangan yang muncul saat kita melihat sebuah foto/barang. Iya, kadang kenangan itu sudah di dalam tapi mendadak muncul ketika kita melihat foto atau suatu barang. Mendadak muncul dan memutarkan kejadian saat itu kembali. Saat kita lihat foto kita masuk sekolah pertama kali, foto dimana ketika pergi ke suatu tempat dengan keluarga, teman atau sahabat, foto kelulusan atau sekedar foto bersama dengan teman atau sahabat atau bahkan orang-orang terdekat dan kalian sayang.
Atau ada juga perasaan lain yang muncul saat kita mencium sebuah aroma atau mengunjungi suatu tempat. Sekali lagi kenangan itu muncul dan memutarkan sebuah kejadian yang saat itu terjadi. Iya, ternyata kenangan itu bukan tentang orang tapi tentang perasaan yang ada dalam diri kita namun tidak bisa kita atur kapan harus muncul atau tenggelam.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu yang pasti, kenangan buatku itu tidak untuk dilupakan tapi untuk diterima dan disimpan dengan baik. Baik itu kenangan indah maupun kenangan buruk, semua itu untuk aku simpan, aku terima dan aku ambil hikmahnya (baik itu positif atau negatif).
Terima kasih kenangan, atas senyuman yang saat ini berhasil tersungging di ujung bibirku. Terima kasih juga atas pelajaran berharga yang sudah diajarkan dan diberikan. Karena hidup ini ibarat naik tangga, semakin ke atas semakin membuat kita lelah tapi harus kita lanjutkan dan membuat kita tidak bisa kembali ke belakang, kembali pada kenangan itu karena kenangan itu harus diterima.
Aku sendiri sudah menerima dan menyimpan kenangan-kenangan itu dengan baik. Saat ini aku sedang berusaha menjadi manusia secara utuh. Bagaimana dengan kalian?
#30DaysWritingChallenge #WritingTherapy
@tiwiiik – 16 September 2020 (22.00 @ her 12th-floor apartment)
