CINTA PERTAMA (sebuah fiksi)

"LANGKAH TEGAP MAJUUU JALAN."

Kalimat itu yang didengar oleh Bara saat sang pemimpin barisan memberikan aba-aba.

Tak lama Bara dan kelompok barisannya secara kompak mengikuti arahan dari sang pemimpin barisan.

Dari pinggir lapangan Nina memandang kagum pacarnya kemudian Ibu Bara berbisik "Bara gagah ya kalau begitu, Nin." Saking kagumnya Nina cuma bisa mengangguk dengan tatapan bangga ke arah pacarnya itu. "Anak Ibu itu Nin. Bangga ya lihatnya". Lagi-lagi Nina cuma bisa mengangguk.

Iya sore itu, Bara mengikuti lomba baris berbaris di tingkat provinsi sambil ditemani oleh keluarga dan Nina kekasih yang sudah dipacarinya selama 3 tahun belakangan.

Nina dan Bara adalah tetangga satu kompleks, mereka sebenarnya sudah mengenal satu sama lain sejak mereka berusia 5 tahun. Saat itu, Bara dan keluarganya baru pindah dari Jakarta ke Solo karena kondisi Bapak Bara yang memang dipindah tugaskan ke kota tersebut. Kondisi mereka berdua yang sama-sama anak tunggal menjadikan mereka akhirnya bersahabat satu sama lain sejak perkenalan mereka saat Ibu Bara mengantarkan jenang ke rumah Nina.

Sejak kecil mereka selalu bersama-sama, mereka tumbuh bersama sampai akhirnya saat duduk di bangku SMA, Bara memberanikan diri untuk menembak Nina dan diterima. Kedua keluarga juga sudah sama-sama setuju bahkan masing-masing keluarga sudah menganggap satu sama lain sebagai bagian dari keluarga mereka.

Tahun ini adalah tahun terakhir Bara dan Nina bersama-sama karena saat lulus SMA nanti Bara memutuskan untuk mengambil pendidikan akademi polisi (melanjutkan profesi sang Bapak) sedang Nina memilih untuk membantu keluarganya menjaga toko di Pasar Klewer sambil mencoba untuk masuk ke Universitas yang dia mau.

Aku tidak akan bercerita bagaimana kehidupan percintaan Bara dan Nina saat mereka bersama-sama, karena sudah barang pasti mereka bahagia saat sedang berada di dekat satu sama lain. Bagaimana tidak, Nina dan Bara sangat yakin dan percaya satu dengan yang lainnya. Mereka tahu arah tujuan mereka kemana bahkan sebelum berangkat ke Semarang, keluarga Bara meminang Nina namun Nina menolak karena dia merasa terlalu muda untuk terikat pada suatu hubungan. 

"Aku masih pengen kuliah dulu Bar, nanti ya abis lulus kita baru ngomongin ini." jawab Nina saat Bara dan Ibu Bapaknya menanyakan pertanyaan tersebut.

"Gapapa Nin, aku makin bangga sama kamu. Ayo kita sama-sama jadi baik dulu ya. Nanti aku, Bapak sama Ibu datang lagi. Tunggu aku ya Nin." imbuh Bara. Jawaban ini malah membuat orang tua kedua insan ini tersenyum bangga karena anak-anaknya sangat positif meskipun dalam hati Ibu Bara

Sampai lah pada momen mereka lulus SMA dan Bara benar-benar pergi ke Semarang untuk sekolah. Sedangkan di Solo, Nina baru berhasil masuk ke Universitas andalannya setahun kemudian setelah gagal pada percobaan pertamanya.

Berada pada kota yang berbeda setelah 14 tahun bersama-sama membuat mereka merindukan satu sama lain. Sesekali mereka bertemu saat Bara pulang ke Solo atau bahkan menelepon Nina saat Bara diberikan kesempatan menelepon di sekolahnya. Kadang Nina ikut keluarga Bara mengunjungi Bara ke Semarang.

Pernah satu waktu saat Bara menelepon Nina "Kamu lagi apa Nin? Pasti bantu Ibu ngitung hasil jualan di Pasar tadi ya. Aku kangen yang di sana Nin."

Nina menjawab dengan tersipu malu "Hehe. Lagi telpon gini loh, kami semua yang di sini juga kangen. Bener ya kata orang-orang kadang hubungan itu harus diberikan jarak dulu baru tahu berartinya seseorang."

"Halah kamu itu denger dari mana gitu itu." impal Bara.

"Anak-anak di kampus yang ngomong katane gitu, oh iya minggu depan aku mau ujian akhir semester doakan ya. kamu semangat di sana." 

"Iya Nin, pasti tak doakan. Jangan lupa makan ya ojo tidur malem-malem. Wes nggih aku harus balik. Daaah."

"Yawes jaga diri ya Bara. Daah.."

Kadang komunikasi mereka sebaik itu, tapi pernah juga mereka memutuskan untuk tidak saling menyapa entah karena Bara yang resek atau Nina yang resek. 

Sampai akhirnya saat masuk di tahun kelima mereka bersama, Nina merasa Bara terlalu sibuk dan Nina sudah nyaman dengan kesibukan di kampus sampai akhirnya komunikasi itu tidak lagi terjalin selama 2 minggu lamanya.

Dari 2 minggu itu, mereka kadang hanya say hi di Whatsapp sebentar kemudian dilanjutkan mendadak pembicaraan semakin garing dan lama-lama mereka saling nyaman untuk tidak berkomunikasi.

Tapi saat Bara pulang, mereka masih menghabiskan waktu bersama-sama dan bahkan lebih dekat dengan keluarga satu sama lain.

Hingga, suatu waktu Bara bercerita ke Nina kalau Caca adek kelas mereka saat di bangku SMP (anak Pak Lurah) sekarang sedang kuliah di Semarang dan kapan hari minta Bara untuk menemaninya mencari kosan. Nina tidak masalah dengan hal ini dan percaya dengan Bara karena Nina tahu toh mereka sudah saling mengenal hampir seumur hidupnya dan Nina tahu Bara tidak akan macam-macam.

Di satu sisi, Nina juga bercerita kalau dia punya sahabat di kampus namanya Mas Joko (anak terpintar di kampus) yang suka bantu Nina mengerjakan semua tugas yang berhubungan dengan praktikumnya.

Tidak ini bukan soal kompetisi siapa punya siapa tapi tentang keterbukaan diantara keduanya.

Hingga, suatu malam saat mereka sedang berada di jalan selepas Bara menjemput Nina dari kampus, Bara berkata "Nin, sebelumnya aku minta maaf aku mau ngomong sesuatu ke kamu."

"Kenapa Bar, kok muka kamu serius gitu. Kenapa? Kamu lapar? Ayo mampir Hik dulu" goda Nina.

"Engga Nin, ini serius. Ini soal aku sama Caca. Sebenarnya aku pernah beberapa kali pergi sama Caca tapi engga ngomong sama kamu. Aku tapi ga ada maksud apa-apa waktu itu dia cuma minta tolong ditemenin karena dia lagi sedih dan pusing masalah kuliahnya."

Nina yang tadinya tersenyum menggoda pacarnya langsung berubah mimik mukanya "Terus? kenapa kamu baru ngomong? Meh putus kamu? Mau ngomong apa kita sama Ibu Bapak. Apa toh kamu ini kenapa?"

"Aku yang ngomong nanti ke Ibu Bapak. Aku yang salah aku harus tanggung jawab. Aku ngerasa setelah kita sama-sama sibuk aku ga ngerti aku merasa seneng pas aku jalan sama Caca tapi aku sayang sama kamu. Aku ga ngerti apa yang aku mau Nin."

"Wes gak tau aku. Aku mau pulang, kita ndak usah makan. Aku mau diantar pulang!" teriak Nina sambil menahan tangisnya "Yawes kalo kamu emang nyaman sama dia yawes sama o dia ae. Asal kamu tahu ya Mas Joko itu pernah nembak aku tapi tak tolak loh karena aku percaya sama kamu." teriaknya sambil menangis.

"Nin, aku sayang sama kamu, Ibu sama Bapak. Aku ga bisa nyakitin kalian gini. Aku minta waktu.."

Nina hanya terdiam membuang muka sambil menangis.

Ah salah aku ngomong sekarang.. ujar Bara dalam hati.

Bara baru turun dari mobilnya saat Nina sudah turun membanting pintu mobil sambil berlari masuk ke dalam kamarnya. Ibu Nina yang di dalam rumah bingung melihat tingkah laku anaknya. Bara menyusul dan akhirnya menjelaskan seluruh kejadiannya. Bara minta waktu ke Ibu Nina untuk memperbaiki semuanya.

"Nak, Ibu gatau mau ngomong apa. Kalau dibilang kecewa ya Ibu kecewa pasti. Tapi Ibu gatau ngomongnya gimana ini sama kamu. Nanti Ibu ngomong sama Bapak nggih Bapaknya Nina sekarang belum pulang."

Bara pun pamit.. Iya, mereka berdua akhirnya putus setelah enam tahun bersama. Nina sudah tidak mau lagi melihat Bara bahkan Nina minta kos sekarang biar tidak bertemu dengan keluarga Bara. Hubungan kedua keluarga tidak berubah, tapi Nina merasa sedih setiap Ibu Bara datang atau sekedar menyapanya dengan segan seakan tahu kalau anaknya salah dan saat itu rasanya Nina semakin sedih.

Memangnya bagaimana hubungan Bara dengan Caca? Tidak mereka tidak berpacaran. Bara bahkan sudah tidak pernah bertemu dengan Caca lagi. Bara cuma minta kedua orang tuanya menyampaikan ke orang tua Nina kalau Bara minta waktu untuk tersesat dan akan kembali saat semuanya lebih baik lagi.

Sudah 2 (dua) tahun ini mereka tidak bertemu, bahkan saat lebaran pun Nina hanya mau bertemu dengan keluarga Bara saja. Saat ini Nina sudah jadi asisten dosen di kampusnya dan Bara sudah jadi polisi yang kebetulan ditempatkan di Solo.

Masing-masing dari mereka berdua tidak menjalin hubungan dengan siapapun selama 2 (dua) tahun ini.

Hingga suatu waktu saat Bara sedang mencuci mobilnya dia melihat Nina sedang berjalan dari ujung gang menuju ke rumahnya. Mereka tanpa sengaja saling tukar pandang sesekali, Bara kikuk tapi Nina cuma melengos sambil menghela napas.

Nina akhirnya mencoba untuk menurunkan egonya dan memberanikan diri menyapa Bara..

"Halo, sudah lama tidak bertemu. Sehat Bar? Selamat ya penempatannya di Solo pas di rumah."

"Eh iya Nin, selamat juga kamu kata Ibu jadi asisten dosen ya sekarang. Uda keren ya."

Akhirnya mereka berjalan beriringan dengan mulut terdiam terbungkam sampai tiba di teras rumah Nina. Nina mempersilahkan Bara duduk dan mendadak memasang muka serius 

"Bar, aku mau ngomong. Sebelumnya aku minta maaf karena aku menghindar selama ini. Tapi jujur aku mikirin omongan orang tua kamu ke Bapak sama Ibu aku. Beliau bilang kamu butuh waktu untuk tersesat dulu. Aku gapapa kamu tersesat tapi semakin kamu pergi semakin aku tahu kayaknya kamu benar kalo kita emang ga bisa lanjut dengan nama hubungan apapun itu. Aku tau ternyata kita emang paling bener ga jadi pasangan."

"Nin.. kok kamu ngomong gitu? Aku ga ada maksud loh ngomong gitu itu buat pergi. Saat itu aku mau memantaskan diriku aja buat kamu."

"Justru setelah kita pisah, kan aku ngekos aku jadi banyak mikir kalo ternyata kita bukan untuk satu sama lain. Kita sama-sama menjadi orang yang lebih baik tapi tidak pada jalan yang sama. Kita sama-sama maju selangkah tapi menuju ke arah berbeda."

''Aku sayang Bar sama kamu tapi kayak sodara. Aku tau kamu pasti juga sama. Coba kamu tanya dirimu sendiri kamu mau berubah buat siapa? Buat kamu sendiri atau buat aku?"

"Buat kamu Nin. Buat kita berdua biar kita bisa hidup enak nanti sampai tua."

"Itu salahnya Bar, aku merasa kamu harusnya berubah untuk kamu sendiri kalo kamu memang berniat memantaskan diri. Kamu harusnya sayang sama kamu sendiri baru sayang sama aku. Makasih ya Bar aku capek mau istirahat dulu."

“Ini salah kita Bar. Kita mengabaikan orang-orang yang berniat menjaga dan mengenal kita karena kita berpikir selamanya kita akan bersama. Harusnya waktu itu kita beri kesempatan kita untuk mengenal orang lain agar kita tahu apa memang benar kita yang terbaik.”

Nina kemudian berdiri dan meninggalkan Bara yang masih duduk terdiam di terasnya. Bara berasa ditampar pake setrika panas di muka. Bara tersadar omongan Nina ada benarnya, selama ini Bara lupa karena dia memantaskan diri untuk di depan Nina bukan untuk dirinya sendiri.

Bara hanya bisa berpamitan pada Nina sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pulang. Nina menangis di kamarnya, hatinya hancur. Tidak menyangka dia bisa berbicara selantang itu pada pria yang selama ini dicintainya. Bara kembali ke rumah dengan hati yang sangat hancur. Bahkan untuk memulai sebuah tangisan Bara sudah tidak sanggup.

Pertemuan mereka untuk pertama kali setelah sekian tahun tidak bertemu akhirnya malah berujung pada perpisahan. Kali ini perpisahan yang sesungguhnya. Perpisahan ini menyakitkan bagi keduanya. Bahkan sangat menyakitkan untuk keduanya.

Kadang hidup memang selucu itu, mereka yang selalu bersama. Mereka yang selalu dan senantiasa yakin satu sama lain pada akhirnya berpisah. Tuhan memang meminta mereka untuk bertumbuh sebelum akhirnya melalui jalan hidupnya masing-masing. Tuhan memantaskan diri mereka untuk orang yang Tuhan pilih untuk mereka pada waktu yang tepat.

Karena pada saatnya nanti Tuhan akan mempertemukan mereka pada kondisi yang luar biasa berbeda. Entah jadi sahabat atau saudara yang mungkin menertawakan kisah percintaan mereka atau menjadi dua orang asing yang memutuskan untuk tidak saling mengenal. Biarkan semesta yang mengatur dan memberikan jawabannya.

 

-        TO BE CONTINUE -

 

 

 

 

 

 

 

Popular Post

MY BIGGEST DREAM

HOTEL MURAH - Daftar Hotel di bawah 100 Ribu di Jogja / Yogyakarta